Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Meidy Kautsar

HomeSastra Untuk SiapapunSep 25, 2008
Disini berkumpul karya sastra baik itu cerpen, puisi, opini, dan sebagainya. Semuanya asli ciptaan pengarang, yaitu gw..hehe
Selamat membaca;semoga terhibur dan bermanfaat..

-Meidy Kautsar

Blog EntryDec 17, '09 2:50 AM
for everyone

Hari ini, gue mesti berkunjung ke Fakultas Psikologi (selanjutnya gue sebut Psiko aja ya). Jujur aja, selama satu setengah tahun gue kuliah di UI, gue nyaris gak pernah ke Psiko. Bisa diitung pake jari penguin gue ke Psiko. Lagian ngapain ke Psiko yang isinya orang-orang yang belajar kejiwaan? Gue takut aja tiba-tiba jadi sakit jiwa.

 

Tapi hari ini berbeda, Gue lagi sibuk-sibuknya mengerjakan tugas akhir semester. Salah satu tugas akhir semester gue adalah membahas kejiwaan tokoh rekaan di sebuah karya drama. Otomatis, mau gak mau, gue harus ke perpus Psiko, alasannya karena perpus Psiko AC-nya adem.

 

Akhirnya siang-siang bolong gue melangkahkan kaki ke Psiko bawa-bawa laptop. Gue udah siap bertempur di perpus Psiko, gue pengen tugas akhir 10 halaman ini selesai hari ini juga!

 

Gue mesti melewati FISIP supaya sampe Psiko. Pas lewatin FISIP, tiba-tiba ada setan gak terlihat yang mengutuk gue! Soalnya tiba-tiba gue kebelet pipis (atau emang udah waktunya gue kebelet pipis). Gara-gara kebelet pipis, mata gue yang tadinya selalu ngeliatin mahasiswi-mahasiswi FISIP yang o-em-ji, sekarang mata gue malah jadi ngeliatin sudut-sudut gedung, berusaha mencari tulisan toilet. Gue baru nyadar kalo gue gak tahu di mana letak toilet di FISIP.

 

Gue terus mencari sendiri. Sempet kepikiran buat nanya, tapi di situ lagi banyak mahasiswi, masa gue nanya ama mahasiswi:

 

“Eh, boleh kenalan gak? Gue Meidy. Toilet di mana ya? Duh…cepetan toilet di mana??? Gak tahan nih!”

 

Gak mungkin banget. Tapi gue juga gak mau pipis di celana, lagi gak mood aja.

 

Toilet…toilet….bukan, bukan cewek cantik, toilet! Toilet!

 

Begitu terus pikiran gue sambil terus berjalan ke arah Psiko. Sampe tiba di Psiko pun gue gak nemuin toilet dan gue mulai berpikir jangan-jangan para mahasiswa di sini seumur hidup gak pernah pipis. Masa iya mahasiswa FISIP dan Psiko gak pernah pipis??? Kalo gak pipis kenapa celana mereka ada resletingnya? Terus kenapa gak ada toilet di mana-mana? Berapa harga bakwan di kantin Psiko???

 

Gue makin kalap nyari toilet lantaran makin kebelet. Gue setengah berlari. Gue ngeliat ada gedung kecil. Menurut gue, di situ pasti ada toilet. Gue mau masuk ke gedung itu tapi pintunya kecil banget, dan dengan sengaja (?) para mahasiswi di situ mencegat gue! Mereka berkerumun di ambang pintu sehingga menutup jalan gue untuk masuk gedung.

 

“Permisi dong cinta! Kalo nggak gue pipisin lu!”

 

Gak deng, gak gitu. Gue berusaha masuk meski harus berdesak-desakan. Gue lupa kalo gue cowok, berdesak-desakan sama para mahasiswi itu malah bikin gue tambah kebelet pipis!

 

Gue berhasil masuk ke dalam, dan…itu dia! Ada toilet di pojokan. Gue berlari ke toilet itu sekuat tenaga. Tapi ada yang aneh, tulisan di atasnya kok “Toilet Perkembangan”?

Apaan tuh “Toilet Perkembangan”? Selama gue hidup, yang gue tahu jenis toilet cuma ada dua, ya kalo nggak toilet cewek ya toilet cowok. “Toilet Perkembangan” yang ada di depan gue ini toilet untuk manusia mana???

 

Haduh, gue udah kebelet pipis banget dan gak ketolong lagi. Gue berusaha sabar dan menunggu: cowok, cewek atau bencong yang keluar dari toilet itu, supaya gue tahu itu toilet buat siapa. Tapi sepi banget tuh toilet, yang masuk juga gak ada. Gue berpikir untuk langsung masuk ke toilet misterius itu, tapi gue takut jangan-jangan “Toilet Perkembangan” itu khusus buat orang yang cara berpikirnya gak berkembang (orang gila). Bisa-bisa begitu keluar toilet itu, mahasiswi di situ langsung mengira gue orang gila baru pup sambil bisik-bisik ke temennya:a

 

“Ih ih, liat deh…ada orang gila berpenampilan mahasiswa.”

 

Sumpah gue gak mau itu terjadi. Gue pergi dari tempat itu dan berlari ke perpus Psiko , karena memang itu tujuan gue.

 

“Mbak, toilet di mana ya?” akhirnya gue nanya, biarin deh daripada buku-buku di situ gue pipisin.

“Mas dari mana ya?”

 

Haduh pake nanya! Dari mana kek!

 

“FIB mbak,” kata gue yang lebih mirip anak ilang nyasar ke UI.

 

Akhirnya mbak itu menjelaskan di mana toilet, dan…hoopla! Gue pipis juga akhirnya...hufff.

 

***

 

                                                                                               


Blog EntryApr 24, '09 11:48 PM
for everyone
Kepada Kamar:
aku adalah harimau
yang meyakini
bahwa menggigit hewan lain
adalah kalah.
tolong besok siapkan
hewan segar

Kepada Kamar:
aku adalah lampu
yang mengetahui
bahwa menyala saat siang
adalah salah.
tolong besok bunuh
malam hari

Blog EntryMar 31, '09 12:14 AM
for everyone
puluh lampu menusuk udara
disaksikan gelap yang tak bisa bertanya
kepada riuh yang mengalun
aku tertegun

Blog EntryMar 31, '09 12:11 AM
for everyone
cerita waktu bocah, saat aku simpan
layang-layang bagus di kolong lemari
tanpa pernah kugunakan
         sekarang beraniku matang, kubawa bermain 
         layang-layang itu, kuberlari tanpa sabar
         di sawah berkabut, angin sedikit ribut:
         layang-layangku terbang
aku belum puas dengan senang, sampai ayah
menghampiri: Buang layang-layang itu, dia pendosa!
aku tak pernah begini terkejut. kecewa. dan
layang-layang itu kubiarkan terbawa angin
terombang-ambing di langit sampai
neraka

Blog EntryMar 31, '09 12:09 AM
for everyone
laci sebelah timur
tersimpanlah buku peribahasa
kubaca.
betapa ingin tahu
aku berlari ke laci selatan
untuk sebuah gulungan benang--kubasahkan
kutegakkan...dan benang basah itu
Tegak

aku buru-buru berlari
ke sebuah toko
buku di sebelah barat
rumahku:
"setanbahasa ini buku yang dapat dipercaya"
kata penjualnya sambil memain-mainkan
air di atas daun talas

Blog EntryFeb 12, '09 10:32 PM
for everyone

sepernah aku bahagia--sebab kasihsayang menggurat;menjelma kenangan,

lalu puing-puing sebesar embun menguap, membabibuta, berubah wujud tatkala

awan taklagi diterima langit: semua berhilang. di sini aku masih bernafas:

                   melewati detik

                   jam

                   hari

                   juga umur yang entah

tiba-tiba seluruhku terjebur kepada gelap gulita,

saat mencoba kabur dari dunia

tanpa membuang nyawa;

aku larut semakin jauh.


Blog EntryFeb 2, '09 4:14 AM
for everyone

Dahulu kala di sebuah taman hidup sepuluh ekor ulat dan dua puluh kuntum bunga. Ulat-ulat itu terdiri dari lima ulat jantan dan lima ulat betina. Sedangkan bunga-bunga itu terdiri dari sepuluh bunga mawar dan sepuluh bunga sepatu. Pada awalnya mereka semua  bersahabat. Sampai suatu hari, sekuntum bunga mawar bernama Okit dengan sombongnya berkata.

              “Hei para ulat! Jangan terus memakani daun kami!”

            “Ya benar! Lihat…daun-daun kami jadi rusak, pergi kalian dari taman ini!” sahut bunga mawar lainnya.

            Ulat-ulat merasa sangat sedih. Mereka memang memakani daun-daun bunga di taman itu. Tetapi jika mereka tidak makan, tentu mereka akan mati kelaparan. Akhirnya dengan kerendahan hati mereka berniat pergi dari taman itu. Namun sekuntum bunga sepatu mencegahnya.

            “Hei, kalian jangan pergi,” kata Rena si bunga sepatu kepada ulat, “kalian boleh memakan daun kami para bunga sepatu di taman ini.”

            “Benar, kami rela membagi daun kami kepada kalian,” ucap bunga sepatu lainnya.

            Ulat sangat berterimakasih atas kebaikan bunga sepatu dan berkata.

            “Terimakasih, kalian telah menolong kami.”

            Akhirnya di taman itu bunga mawarlah yang paling indah karena daun mereka utuh. Terkadang beberapa bunga mawar mengejek bunga sepatu yang daun-daunnya bolong akibat dimakani ulat.

            Suatu ketika, seorang manusia mendatangi taman itu. Dia berkata.

            “Aku akan mengambil beberapa bunga disini. Oh tidak…bunga-bunga sepatu ini daunnya dimakani ulat. Aku ambil lima bunga mawar ini saja, daunnya masih bagus.”

            Lalu manusia itu mencabut lima bunga mawar dari taman itu dan pergi. Taman itu berduka, khususnya bunga mawar. Mereka kehilangan lima anggotanya. Sekuntum bunga sepatu tiba-tiba berbisik kepada ulat.

            “Kami harus berterimakasih kepada kalian. Kalau daun kami tidak dimakani kalian, mungkin kami juga diambil oleh manusia seperti lima bunga mawar itu.”

            Di taman itu hanya tersisa lima bunga mawar. Mereka berlima takut akan diambil juga oleh manusia. Akhirnya mereka menyadari kesombongannya dan berkata.

            “Kalian para ulat, kami mohon maafkanlah kesombongan kami. Kalian sekarang boleh memakan daun kami. Kami takut akan dicabut dari tanah seperti kelima saudara kami.”

            “Tapi mawar, daun itu memang milik kalian, hak kalian untuk memberikannya kepada kami atau tidak,” tukas Hili si ulat jantan.

            “Tidak ulat, sungguh kami sangat menyesal,” ucap Okit, “sudah seharusnya kami memberikan daun-daun kami untuk kalian makan. Bukankah sesama makhluk hidup kita harus saling tolong-menolong?”

            Rena si bunga sepatu menjawab.

            “Itu benar Kit. Kini hanya ada lima belas bunga di taman ini. Bisa-bisa beberapa waktu kedepan kita akan habis dicabuti oleh manusia.”

            Mendengar perkataan kedua bunga itu ulat-ulat sangat terharu dan seekor ulat menjadi bersemangat untuk berkata.

            “Terimakasih para bunga, kalian sangat baik kepada kami,” teriak Hili berkaca-kaca, “kelak kami akan membalas jasa kalian!”

            Beberapa hari berlalu, setelah ulat memakan daun-daun bunga mawar dan bunga sepatu, mereka bersepuluh berubah menjadi kepompong. Dalam beberapa minggu kepompong itu menetas dan ulat-ulat itu berubah menjadi kupu-kupu yang sangat indah. Para bunga takjub melihat perubahan itu, dan salah satu dari mereka berkata.

            “Wah…kalian telah berubah wujud! Kalian kini bersayap dan indah sekali!”

            “Terimakasih, “ kata Hili yang kini telah menjadi kupu-kupu, “Sekarang kami akan memenuhi janji kami. Kami akan membalas jasa kalian.”

            Sepuluh kupu-kupu itu menolong bunga menyebarkan benihnya. Mereka menggunakan kemampuan terbangnya untuk menyebarkan benih-benih bunga mawar dan bunga sepatu secara merata di taman itu. Bunga-bunga sangat berterimakasih kepada kupu-kupu. Kini kupu-kupu tidak lagi mendapatkan daun dari bunga, tetapi madu yang sangat manis dan lebih enak daripada daun.

            Berkat pertolongan sepuluh kupu-kupu, beberapa minggu kemudian jumlah bunga di taman itu bertambah. Kini di taman itu terdapat seratus bunga mawar dan bunga sepatu. Kehidupan di taman itu menjadi penuh dengan kebahagiaan.

            Namun di tengah kebahagiaan itu, tiba-tiba seorang manusia kembali datang. Seluruh penghuni taman itu pasrah jika ada bunga yang akan dicabut lagi oleh manusia itu.

            “Kenanglah taman ini meskipun kalian dicabut olehnya!” teriak Okit kepada seluruh bunga. Perkataan Okit itu menguatkan hati para bunga untuk tetap kuat. Ketika mereka sudah siap menerima keadaan, manusia itu justru berkata.

            Taman ini sekarang indah sekali! Bunga-bunganya jauh lebih banyak dan sekarang ada kupu-kupu yang mengitarinya. Aku akan menjaga bunga-bunga ini agar tetap tertanam dan menyiraminya setiap hari.”

            Manusia itu kemudian pergi tanpa mencabut sekuntum bunga pun. Seluruh penghuni taman itu bersorak-sorai gembira karena tidak ada yang berpisah. Seluruh bunga mawar, bunga sepatu, dan kupu-kupu kini hidup bahagia. Sampai saat ini, itulah alasan mengapa ulat menjadi kupu-kupu, untuk membalas jasa dengan menyebarkan benih bunga yang memberinya daun.

 

 


Blog EntryNov 20, '08 10:33 PM
for everyone

saat sangat malam tiba tenaga sudah tiada

mata lelah untuk tetap terbuka

aku merebah di tikar segera

dingin menerpa

 

tidak itu saja

nyamuk juga meraja!

plak! plok! plak!

gebukanku berirama

tidur jadi terjaga

habis gatal gigitannya

sangat menyiksa

 

kubakar saja

obat nyamuk bakar kupunya

haha!

rasakan kau ya!

nyamuk yang tadinya dimana-mana

berangsur tiada

 

akhirnya

aku bisa tidur bahagia

walau dengan asap sesak beraroma


Blog EntryNov 18, '08 12:56 AM
for everyone
Hanya afair
Namun sangat mengafsun

Maaf aku babil
Bagai gadung
Yang tak lekang racunnya
Meski direndam abu basah

Blog EntryNov 18, '08 12:48 AM
for everyone
  Secangkir teh hangat disuguhkan kepadaku lengkap dengan senyumannya.
     "Silahkan diminum Di, mumpung masih hangat."
    Aku menggerakkan tangan tak lama setelah bibirnya terkatup. Udara malam ini memang lebih dingin dari biasanya. Sangat dingin. Dan teh hangat benar-benar jamuan yang tepat. Hangat cangkirnya teresap kepori-pori telapak tanganku yang beku.
     "Ahhh...," desahku setelah meneguknya, puas sekali menyingkirkan dingin di tubuh.
     "Manis ya teh ini, seperti yang buat," gombalku.
     Dia malah tersenyum. Dan sialnya manis sekali. Aku buru-buru meralat dalam hati, manis teh itu sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding manis wajahnya saat tersenyum. Menggodaku tanpa sadar. Aku jadi ikut tersenyum, seakan-akan posisi bibirku ditarik olehnya.
     "Oh iya, bisnismu gimana Di?"
  "Wah..Aku untung besar dari hasil penjualan kerajinan itu. Ternyata berjualan itu menyenangkan lho, tapi memang menguras waktu dan tenaga sih. "
     "Bagus deh, terus rajin ya."
     Rasanya menyenangkan sekali mendapat dukungan darinya. Dia memang sering bertanya tentang bisnisku setiap kali kami bertemu;selalu memberikan kata-kata yang menyemangatiku. Aku sempat berpikir, mungkin dia yang membuat semangat berjualanku tidak ada habisnya. Entahlah.
     Kami bercakap-cakap. Terkadang diselingi oleh kesenyapan sesaat. Tidak terasa, malam semakin sempit. Cangkir itu pun sudah bisu, tak ada air yang menggenanginya, habis bersama waktu.
     Ngobrol bersamanya merupakan suatu hal yang menyenangkan bagiku. Dia wanita yang baik, polos, pintar, dan memiliki wajah yang cantik. Terlebih, dia memiliki hal yang  berbeda  dibandingkan wanita  lain, tapi aku tidak tahu persis apa itu.
     Banyak yang kami bicarakan, hal-hal di kampus, film terbaru, kabar orangtua kami, musik yang sekarang sedang disukai, dan lainnya. Terkadang, tanpa kuminta, dia bercerita  tentang  kekasihnya yang bernama Rehan.
     Tiba-tiba dering telepon mencuat, terdengar jelas iramanya oleh kami yang berada di teras.
     "Hmm...sebentar ya Di, aku angkat telepon dulu."
     Agak mengherankan memang. Vina mempunyai pembantu, seharusnya dia tak perlu repot-repot mengangkat telepon rumahnya ketika ada aku sebagai tamu.
     "Ok."
     Dia masuk setengah berlari, meninggalkanku sendirian. Lalu irama telepon itu berhenti. Sayup-sayup terdengar suaranya.
   Aku menunggunya, sama sekali tidak berbuat apa-apa. Rintik-rintik hujan tiba-tiba berjatuhan.
     "Yah...hujan"
     Agak deras. Kebun itu jadi basah kedinginan. Aspal jalan yang masih kering itu juga basah dengan cepat, berubah warna tatkala rintik hujan meletup di permukaannya. Masih menelepon? Aku tak betah sendirian. Menurut waktu, dia baru lima menit berada didalam. Suaranya yang tadi sayup-sayup terdengar sekarang tak terdengar lagi, kalah dipapah hujan.
     Enam puluh menit berlalu dan akhirnya dia menjumpaiku. Hujan kini bertambah deras.
     "Di, maaf ya..aku membuatmu menunggu terlalu lama."
     "Oh...tidak apa-apa Vin, santai sajalah."
     Lalu dia memberitahuku kalau yang tadi meneleponnya adalah Rehan. Aku tak tahu mengapa hal ini sering kali terjadi padaku: dada ini serasa dijambak oleh sesuatu. Aku berusaha bersikap sewajarnya.
     "Hujannya deras juga ya, kamu menginap di sini saja Di."
     "Cuma gerimis Vin, aku masih bisa pulang kok."
     Jelas-jelas ini bukan gerimis, aku tahu benar itu. Ada sesuatu yang membuatku tiba-tiba kacau. Aku khawatir Vina merasakan keanehan pada ucapanku tadi.
     "Oh iya, ini bukunya, katanya kamu mau pinjam."
     "Waduh..hampir lupa tujuan utama aku datang kesini, makasih Vin, nanti malam akan langsung kusalin. Besok ya aku kasih kamu lagi," kutaruh buku itu di tas.
     Tidak apalah, pikirku. Yang terpenting, aku bisa bercakap-cakap dan bertemu dengannya. Aku memang tidak berdaya melawan hujan yang membawa dingin ketubuhku lagi, membuat hangat teh yang tadi disuguhkan olehnya menjadi tak berbekas.
     Aku beranjak dari kursi.
     "Vin, aku pulang dulu ya."
     "Masih hujan Di."
     "Aku bawa jas hujan kok."
     "...Hati-hati ya Di. Ibuku sepertinya sudah tidur, kamu langsung pulang saja."  
     "Begitu, salam ya buat Ibumu, bilang kapan-kapan aku bawain kerajinanku yang lainnya."
     "Iya, pasti aku salamin, makasih ya lampu kura-kuranya."
     Aku menghampiri motorku, mengenakan jas hujan yang kutaruh dibagasi. Vina menggunakan payungnya, dan membuka gerbang. Tiba-tiba saja pembantu Vina berteriak dari ambang pintu. "Non, Mas Rehan telpon!" Vina tersenyum padaku. Aku pun pulang.



Blog EntryNov 17, '08 12:54 AM
for everyone

     Waduh, hari ini sungguh dahsyat. Dahsyat sialnya maksud gw. Bangun dari tidur bukannya roti isi daging + susu anget yang gw dapet, tapi malah kabar dari ema gw kalo motor gw dirampas ama bokap buat berangkat kerja. “Lah emangnya motor ayah kemana ?”, dengan tatapan manis gw bertanya. “Katanya sih mogok, jadi tadi malem tuh dia pulang jalan kaki gitu, elu udah tidur sih, jadi gag tau deh” begitu doang jawaban ema gw. Mau gimana lagi, nasi udah menjadi bubur, kalo tadi gw bangun pagian dikit, gw pasti bisa nyegat bokap gw biar tuh motor gag dibawa dia, n kalo dia berontak, tinggal gw iket trus gw sekap dikamar mandi, yang penting gw bisa kuliah bawa motor!huhuhuhuhuhuhuu….

     Selesai menangisi kejadian itu, gw langsung melakukan aktivitas seperti biasa, makan seadanya, mandi juga seadanya. Abis mandi, gw bergumul ama baju n celana gw. “Hmm…pake baju yang mana ya hari ini?”, gw emang suka begitu, meski keliatannya gw cuek n berantakan (klo yang ini kata temen2 gw di kampus), tapi gw apik banged sama penampilan. "Yang oren aja deh, perasaan dah lama gag gw pake”. Kata orang2 sih tuh baju norak, nyamain suporter persija, tapi bodo amat. Prinsip gw: yang penting berbaju!

     “asalamualaikum ma..”, gw selalu berkata begitu setiap mau berangkat. n seperti biasa pula, ema gw pasti jawab “walaikum salam tong, hati-hati di jalan”. Ema gw emang ema terbaik sejagat, selalu ngedoain gw setiap mau berangkat kuliah.

     Yang beda pagi ini cuma, biasanya setelah mengucapkan salam nan manis ke ema gw (kadang2 sambil cipika-cipiki), gw langsung ngegas motor dengan senang hati, tapi sekarang gw melangkahkan kaki dengan berat hati. “Tidaaak…hari ini gw mesti jalan kaki ke kampus” , hati gw menjerit kira-kira seperti itu. Sebenernya gw bukan pemales, jadi oke2 aja kalo jalan kaki. Yang jadi masalah jarak dari rumah gw ke jalan raya tuh naujubilah jauhnya! Gempor deh gw ma..


Blog EntryNov 15, '08 4:27 AM
for everyone

Detik yang lalu sudah menjadi mimpi

         Detik yang akan datang?

         ya..

         masih kau rasakan

         masih kau rasakan

         masih kau rasakan

         masih kau rasakan

                                 Ya

tapi sampai kapan

kau pun berkata

Entah


Photo AlbumWarna DuniaSep 25, '08 5:35 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Warna dunia tidak selamanya seperti apa yang selalu terlihat. Kau bisa menciptakan warnamu sendiri. Sehingga awan tak lagi putih, langit tak selalu biru, dan bulan tak sebesar kelereng. Atau, warna dunia berubah dengan sendirinya ketika kau melakukan suatu hal yang membahagiakan. Suatu hal yang membutuhkan pengorbanan. Suatu hal yang tidak biasa: memerlukan rasa kasih dan sayang sehingga terciptalah sebuah cinta yang padat. Alam akan menentukan sendiri warnanya. Jika rasa sayangmu meluap bersama keikhlasan, warna pun akan ikhlas menunjukkan keindahannya. Jika rasa kasihmu meletup tanpa mengabaikan perlindungan terhadap orang yang kau kasihi, begitulah warna akan memadati jagatmu.
Dunia tidak selamanya milikmu seorang. Tapi hargailah dia. Dan jangan sesekali kau lupakan siapa yang menciptakan jagatmu. Rasa kasih dan sayang akan mengundang warna-warni dunia yang indah jika kau menempatkannya pada tempat yang semestinya.


ReviewSep 25, '08 5:33 AM
for everyone
Category:Other
Menjadi mahasiswa tidaklah seperti menjadi siswa. Mahasiswa merupakan masa perjuangan. Di masa ini, aku merasa sudah harus memikirkan masa depan, menyusun rencana untuk langkah selanjutnya, dan menyeleksi rintangan yang akan berguna. Aku tidak hanya ingin bermain di tepi sungai, tetapi ingin terjun langsung ke laut yang dalam. Aku ingin melihat dunia yang lain, yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Dunia yang selama ini hanya Tuhan yang menikmatinya. Aku ingin menikmati duniaku, dunia imajinasiku. Dan aku ingin dunia imajinasiku dijamahi banyak orang.